This is Cerpen karya Nisa yang bener-bener pendek dan bener-bener udah jadi. Saking terobsesinya sama KwangMin Oppa jadi apa-apa ada Kwangmin nya. hehe.... Ini udah ada hak ciptanya lho ya... Punya aku dong, bikinan aku .... ugh, senengnya, tapi agak serem juga sih ya? jangan sampai terjadi deh. hihihi. *ampun Champion! Kwangmin tetep hidup kok, cuma cerita doang. hihihi.
“ Kembalikan saja buku itu padanya…”
gumam Andini seraya menjejalkan buku paket ke dalam tas. Olen memandang sampul
buku bercover hitam itu lekat dan mengulum senyum. “ Bukankah aku juga bisa
memilikinya?”gumam Olen. “ Tentu saja kau bisa! Asal kau berusaha…” sahut
Andini yakin.
Hari
mulai malam. Olen belum juga terlelap. Ia gelisah menanti esok hari yang kian
pendek. Akankah ia mengembalikan buku tersebut pada pemiliknya? Atau ia akan
menyimpan itu selamanya tanpa diketahui siapa-siapa selain dirinya?
Tidak! Buku ini harus aku kembalikan!
cetus Olen yakin. Ia pun terlelap dengan selimut menutupi wajahnya.
***
“
Kukembalikan…”lirih Olen sambil menundukkan kepalanya. Kwangmin mengangkat
dagunya, “ Milikku, ya?” ia pun meraih buku tersebut. Nafas Olen memburu. “
Darimana kau dapat ini?,” selidik Kwangmin kalem. Olen menggeleng. Apa
maksudnya? Kenapa tidak jujur saja? Lagipula dia jelas tidak mencuri, harusnya Kwangmin
berterimaksih pada Olen masalah itu.
“ Kalau kau
tidak menjawab, ya sudah, terimakasih…”pungkasnya dengan senyum tipis. Sampai
detik itu Olen masih terus menunduk…makin dalam… dalam… dalam… dan ia
meneteskan air mata. Ia terduduk sambil melipat kakinya dan memeluk lututnya.
Menangis sesengukan.
Mungkin sekarang
terlambat untuk menceritakan semuanya. Olen merasa serba salah ketika ia tidak
menjawab pertanyaan Kwangmin. Itu tidak mungkin terulang kembalikan? dan Olen pun
memarahi dirinya sendiri. Ini konyol! Harusnya Olen menjelaskan padanya bahwa
buku itu ia temukan di bawah pohon di taman sekolah sewaktu sore hari pada
waktu hujan. Sungguh, Olen telah menyelamatkan buku tersebut dari tetesan air
yang pasti akan menyobeknya secara alami bahkan sampai tinta-tintanya luntur
dan tidak bisa terbaca lagi.
Seandainya
waktu bisa terulang lagi, Olen akan menjawab pertanyaan tadi dengan senang hati
dan tanpa gugup sedikit pun, namun apa daya Kwangmin telah pergi bersama buku
itu, tidak mungkin buku itu kembali lagi ke tangan Olen sementara seminggu
setelah kejadian memalukan tersebut terjadi, Kwangmin sudah tidak bersekolah
lagi di SMA N 1 Tormentor. Tahu kemana dia? Kini ia berada di surga… ditemani
malaikat-malaikat penjaga yang ia yakini lebih cantik jelita daripada dirinya
yang kini menanti sosok lain yang bisa menggantikan Kwangmin di dalam hatinya.
Padahal, Olen sudah menyiapkan surat ini sejak jauh-jauh hari.
Untuk
Kwangmin
di
mana pun kau berada…
Aku tidak tahu sedang apa kau ketika kau membaca
surat bodohku ini. Kau juga pasti menanyakan hal ini, “ siapa yang mengirim
surat ini untukmu?” . maaf, aku belum bisa mengatakan ini semua…. Senja, kau
selalu duduk bersama buku bersampul hitam itu, dan saat itu aku belum pulang
menunggu sampai kau beranjak dari dudukmu… satu hal yang ingin aku katakana
lewat surat kumuh dan tidak penting ini, AKU MENGAGUMIMU dari atas sampai kaki…
Tertanda…
Your
secret Admirer
Sekarang, surat
itu Olen simpan baik-baik di dalam lacinya dan ia membungkusnya di dalam amplop
merah jambu meski ia sendiri tahu, surat tersebut belum sempat ia kirimkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar